Kepahiang — Kondisi memprihatinkan terlihat di SMP Negeri 1 Kepahiang setelah tim investigasi awak media turun langsung ke lokasi pada Kamis, 5 Maret 2026. Sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah favorit dengan jumlah siswa mencapai lebih dari seribu orang ini justru menampilkan pemandangan yang jauh dari kata layak.

Dari hasil pantauan di lapangan, sejumlah bangunan sekolah terlihat rusak dan tidak terawat. Atap beberapa ruang kelas tampak bolong dan berpotensi bocor saat hujan. Dinding bangunan dipenuhi lumut, kotor, serta cat tembok yang sudah kusam dan mengelupas. Bahkan beberapa bagian bangunan terlihat seperti tidak pernah mendapat perawatan dalam waktu lama.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, sekolah dengan jumlah siswa yang begitu banyak setiap tahunnya menerima kucuran anggaran dari program pemerintah, yakni Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Secara teknis, dana BOS memiliki peruntukan yang jelas sesuai petunjuk teknis dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional sekolah, termasuk:
Pemeliharaan dan perawatan ringan sarana prasarana sekolah.
- Perbaikan atap bocor, pintu dan jendela rusak.
- Pengecatan gedung sekolah agar tetap layak dan nyaman bagi siswa.
- Perbaikan ruang kelas serta fasilitas belajar.
- Pembelian meja dan kursi siswa yang rusak.
- Perawatan lingkungan sekolah agar bersih dan sehat
Dengan jumlah siswa yang diperkirakan mencapai lebih dari seribu orang, SMP Negeri 1 Kepahiang diduga mengelola dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sekitar Rp1,1 miliar hingga Rp1,3 miliar setiap tahun. Namun ironisnya, kondisi bangunan sekolah justru terlihat rusak, kumuh, dan tidak terawat. Fakta ini memunculkan pertanyaan publik: ke mana sebenarnya aliran dana perawatan sekolah tersebut?

Namun fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi gedung sekolah yang kumuh dan rusak. Hal ini memunculkan dugaan bahwa pengelolaan dana perawatan sekolah tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Ini sangat memprihatinkan. Sekolah sebesar ini, dengan jumlah siswa ribuan, tapi kondisi bangunannya seperti tidak pernah dirawat,” ujar salah seorang warga yang melihat langsung kondisi tersebut.
Saat awak media mencoba mengkonfirmasi pihak sekolah, kepala sekolah SMP Negeri 1 Kepahiang tidak berada di tempat, sehingga klarifikasi terkait penggunaan dana BOS belum dapat diperoleh.
Situasi ini membuat masyarakat mendesak adanya pengawasan serius dari pihak terkait, terutama Dinas Pendidikan Kabupaten Kepahiang agar segera melakukan audit dan evaluasi terhadap pengelolaan anggaran sekolah.
Selain itu, aparat penegak hukum seperti Kejaksaan Negeri Kepahiang dan Kepolisian Daerah Bengkulu juga diminta turun tangan untuk menelusuri apakah penggunaan dana BOS di sekolah tersebut sudah sesuai aturan atau justru berpotensi terjadi penyimpangan anggaran.
Masyarakat berharap kasus ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Dunia pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah, bukan malah meninggalkan sekolah dalam kondisi rusak dan tidak terawat di tengah besarnya anggaran yang digelontorkan negara.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMP Negeri 1 Kepahiang belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi bangunan sekolah maupun transparansi penggunaan dana BOS.
